Air mata ini untuk siapa ?

Untuk sebuah jabatan yang tidak lagi aku pegang. Untuk sebanyak harta kekayaan yang tidak lagi aku miliki. Untuk pujian, tepuk tangan dan decak kagum yang tidak lagi aku dengarkan. Rasanya air mata ini terlalu murah untuk aku tumpahkan. Aku hanya ingin menumpahkan air mata ini untuk orang-orang terkasih yang aku belum bisa memberikan yang terbaik untuknya.
Ibu .. kalau diri ini terlalu sibuk dengan pekerjaan dan melupakan kasih sayangmu, harusnya aku menangis karena aku telah menyia-nyiakan waktumu. Waktumu tinggal sedikit dan aku masih saja sibuk melayani orang-orang lain yang mereka tidak memberikan kasih sayangnya kepadaku. Mereka hanya menginginkan keringatku dan merasa berhak mengatur dan memarahiku.
Ibu … mungkin waktu kita bersama hanya tinggal beberapa saat saja. Tapi masih saja aku tidak kunjung menjengukmu. Mungkin saat ini keriput tulang pipimu sudah semakin nampak. Pendengaranmu semakin berkurang, penglihatanmu semakin rabun. Tapi aku sangat yakin doamu tidak akan berkurang dan bahkan terus bertambah untuk aku anakmu. Ibu … I love you (nm)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Anakku belajar Wudlu

Membiasakan diri anak untuk mencintai buku aku mulai dengan membuat mereka nyaman dan senang melihat buku. Jalan-jalan ke toko buku adalah salah satu cara untuk menyenangi buku. Dan hari itu, sesaat setelah mutuer-muter mencari buku anak-anak, si sulung azka tiba-tiba menunjukkan buku berjudul “Belajar wudlu”. Buku yang hanya 10 lembar itu jadi tebal karena per lembarnya memang menggunakan kertas tebal sehingga menarik buat anak. “ Pa buku bagus nih buat miftah untuk belajar wudlu” kata azka. Miftah anakku yang kedua yang berusia 6 tahun, memang suka ikut jamaah maghrib dan belum bisa berwudlu. “Sekalian saja beli buku belajar sholatnya pa”, tambah Azka. “Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih Engkau berikan anakku Azka untuk concern dengan wudlu dan sholatnya adiknya”, bathinku.
Anakku yang ke dua Miftah, memang sudah sering ikut jamaah sholat wajib. Tapi dia tidak pernah wudlu dan hal itu selalu diprotes kakaknya, Azka. Nggak apa-apa, pikirku. Yang penting dia tahu bahwa ada akitivitas rutin yang disebut sholat pada waktu-waktu tertentu. Dia secara emosional bergabung dalam jamaah sholat. Tanpa sarung dan peci, dengan hanya pake baju atau kaus dan celana pendek, dia selalu ingin sholat di samping kiriku yang jadi imam. Gerakan awalnya lucu. Saat ruku’ dia sering terjatuh karena belum bisa menjaga keseimbangan badan. Alhamdulillah, kini sudah mulai luwes. Ini adalah kemajuan yang luar biasa, karena biasanya kalau diajak sholat dia selalu menolak. Namun jika aku dan istriku sudah sholat, maka Miftah bersama Rais adiknya, segera berhamburan ngerjain kami yang sedang sholat yaitu dengan main kuda-kudaan saat kami sedang sujud. Dengan berteriak-teriak, Miftah dan Rais berpacu naik punggung bapak dan ibunya. Diikuti dengan tertawa terpingkal-pingkal karena kami harus berdiri dari sujud dan membuat mereka berguling-guling di sajadah sehabis naik punggung.
Ya Allah … Engkau yang menggenggam hati anak-anakku. Kadang di kala sunyi malam, aku khawatir dengan perkembangan anak-anakku khususnya mengenai pendidikan mengenal diriMU. Aku khawatir dengan semakin bertambahnya usia anakku, semakin sulit aku mengajarkan kewajiban-kewajiban ibadah sebagai seorang muslim. Tapi kini, aku hanya bisa bersimpuh kepadaMU. Anakku antusias sekali belajar wudlu sampai bajunya basah semua. Anakku bahkan mengingatkanku kalau waktu sholat sudah tiba. Anakku yang sangat ingin segera masuk mushola ikut pengajian. Hanya ijinMU ya Allah mereka bisa mengenalMU. Hanya rencanaMU ya Allah yang menjalankan hidup anak-anakku. Di tengah waktu berkumpul dengan keluargaku yang terbatas, aku takut mendengar pertanyaanMU nanti mengenai tanggung jawabku tentang upaya apa yang sudah aku lakukan agar anak-anakku lebih mengenal diriMU.
Namun maafkanku Ya Allah, aku tidak bisa menemani sholat anakku setiap hari. Aku mendapat tugas di kota yang jauh di Balikpapan. Hanya sebulan sekali, aku pulang menjenguk anak istriku. Tapi aku yakin Engkau Maha Tahu kegelisahanku. Keberadaanku di Balikpapan pasti juga atas ijinMU. Aku ingin sekali ya Allah bisa menemani dan membimbing anak-anakku untuk mengenal lebih dekat kepadaMU.

Posted in Berbagi Pengalaman | Leave a comment

Lupa Jalan Pulang

Hari ini load pekerjaan terasa padat dan berat. Padat karena tidak ada jeda untuk berhenti. Bahkan untuk makan tidak lagi nyaman karena terburu-buru. Begitu pun sholat, sulit untuk khusyuk. Dikatakan berat karena persoalan yang harus diselesaikan memang cukup menyita energi.

DI saat waktu senggang, rasanya mudah sekali kita mengatur ritme hati dan pikiran untuk tetap istiqomah connecting dengan Yang Mengatur Kehidupan. Di saat senggang itu, juga termasuk merancang bagaimana cara tetap survive bisa berkomunikasi dengan Allah SWT pada saat nanti kita menghadapi hari-hari yang berat. Ternyata dalam prakteknya tidak semudah teorinya. Selalu saja ada bisikan-bisikan untuk keluar jalur yang telah direncanakan. Konsep tawakkal setelah ikhtiar dan doa yang optimal, tidak jalan. Kepasrahan total kepada Yang Mengatur Kehidupan masih juga diselingi dengan sikap kecewa, marah, putus asa, khawatir dan cemas.

Ketika kita berangkat bekerja dengan hati ikhlas, maka sudah seharusnya ketika pekerjaan sudah selesai, kita memulangkan hati ini juga dengan perasaan yang ikhlas. Hati yang gelisah, marah, kecewa dan putus asa adalah hati yang lupa jalan pulang. Pikiran yang carut marut adalah juga pikiran yang lupa jalan pulang. Mungkin fisik kita sudah pulang sampai rumah, tapi hati dan pikiran kita masih juga gentayangan tersesat. Tidak connect lagi dengan kemesaraan anak istri yang menyambut kita pulang ke rumah. Sampai di tempat tidur pun, pikiran dan hati belum juga menemukan jalan pulang. Akibatnya menjadi sulit tidur. Alangkah indahnya, jika di setiap kepenatan bekerja, kita sadar untuk memulangkang hati dan pikiran kita dengan sikap tawakkal total terhadap apapun hasilnya. Penerimaan yang ikhlas terhadap ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Yang Maha Mengatur dari setiap detik kehidupan yang sudah kita lewati, akan memudahkan hati dan pikiran kita ini untuk pulang. Pulang ke rumah kejernihan hati dan pikiran bahwa setiap kejadian adalah ketetapan dari Yang Maha Menetapkan, Dzat Yang Maha Merencanakan setiap rencana kita. Hati dan pikiran yang yakin bahwa setiap kejadian adalah tidak akan sia-sia dan selalu mengandung hikmah agar kita selalu ingat jalan untuk pulang ke haribaanNYA.

Pada dasarnya ajaran Alquran dan rasul Allah adalah ajakan jalan untuk pulang. Pulang kepada Yang Mempunyai Kehidupan. Suara azan 5 kali sehari adalah ajakan kepada manusia agar ingat jalan pulang. Ayat-ayat dalam kitab suci adalah peta besar jalan untuk pulang ke sorga.

Sayang sekali, godaan-godaan di tengah jalan sering kali melenakan kita untuk pulang ke kampung akhirat. Ajakan syetan dan nafsu sering kali lebih kuat dari ajakan untuk pulang. Memaksa kita berhenti sejenak, makin sering, makin lama, dan akhirnya kerasaan dan nyaman berhenti di tengah jalan.

Mari, kita saling mengingatkan jalan untuk pulang kepada diri kita dan keluarga kita. Pulang ke sorga Allah, rumah kita sesungguhnya. (NM)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tensi dilarang naik, apapun penyebabnya

Tensi dilarang naik, apapun penyebabnya. Itulah niatku yang harus aku ualng-ulang setiap hari.  Sebuah niat yang harapannya mampu menjaga emosi di tengah begitu banyak hal-hal yang bisa menyebabkan tensi naik.

Tensi dilarang naik, tanpa reserve !. Semestinya kalau sikap ikhlas dan ridlo itu sudah terpatri di dalam hati, ketika tensi mau naik, bisa segera diredam kembali. Setiap kejadian, tidak akan lepas dari ilmu dan pengawasan Allah. Kalau sekedar anak nakal lalu tensi naik, anak buah belum mengerjakan tugas tensi naik, sopir angkot ngetem sembarangan tensi naik, target bisnis tidak tercapai tensi naik, nasabah marah-marah lalu tensi ikut naik, bisa dibayangkan setiap hari tensi ini nggak pernah turun.

Tensi naik disebabkan oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang kita anut.  Kita sangat concern dengan kebersihan misalnya, akan mudah naik tensi kalau melihat orang lain sembarangan buang sampah. Kita sangat memperhatikan soal waktu, maka kalau ada anak buah yang lelet dalam menyelesaikan tugas, sangat mungkin tensi naik.  Kita pulang kantor sangat lapar, dan berharap sampai di rumah ada makanan yang bisa segera dilahap. Ternyata sampai di rumah tidak ada sedikit pun makan yang tersisa. Sangat mungkin tensi jadi naik.  Begitulah, begitu banyak persoalan kehidupan yg bisa membawa tensi naik. Kalau kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka mari kita nikmati tensi yang tidak pernah turun.

Mari berniat untuk menjaga agar tensi ini tidak naik, apapaun penyebabnya, bahkan oleh sebab yang paling absurd sekalipun. Berapapun kerugian yang kita alami, baik finansial maupun non finansial, tenang sejenak, jaga tensi jangan naik.

Amati tanda – tanda tensi mau naik ; volume suara makin tinggi, kepala mulai nyut-nyutan, muka merah, mata melotot, tangan serasa pingin melayang.  Mungkin wajah kita seperti setan kalau tensi lagi naik. Sadari tanda-tanda itu segera dan yap …. ucapkan ; Astaghfirullajhal’adziim, tensi jangan naik.

Kadang tensi naik itu disebabkan oleh karena kita suka memakaikan ukuran baju kita kepada orang lain. Orang lain harus punya ukuran yang sama dengan kita tentang apa yang kita yakini. Padahal masing-masing orang mempunyai ukuran sendiri-sendiri. Misalnya anak kita yang nakal yang suka bongkar-bongkar alat-alat elektronik yang baru kita beli. Bagi kita… ya anak kita nakal. Tapi menurut anak kita, dia itu pingin tahu sesuatu yang baru.

Kalau upaya sudah optimal, lalu keinginan tidak tercapai, semestinya tensi tidak perlu naik. Ambil saja pelajaran dari tidak tercapainya keinginan tersebut, kemudian jangan diulangi untuk mendapatkan keinginan berikutnya.

Ok ? Saya harap para pembaca juga jangan naik tensinya saat membaca tulisan ini. Anggap saja tulisan ini seperti teriakan penjualan obat. Kalau anda yakin dengan obat yang dijual ya beli saja. Kalau tidak yakin … Ya biarkan saja sang penjual obat capek sendiri … selesaikan ?

Posted in Hikmah | Leave a comment

Ketika Rindu Menyergap

Baru tiga minggu bertugas di Cabang Balikpapan. Sering bayangan anak istri menyergap. Ada keinginan membuncah untuk mudik ke Jakarta untuk bertemu dengan mereka.  Ada rindu menyergap hati.

Maha Agung Allah SWT …. Melalui nabinya, mengajarkan kepada umat manusia akan arti pentingnya keluarga.  Bandelnya anak atau bawelnya istri ternyata tidak sebanding dengan makna kehadiran mereka di dalam kehidupan kita. Keluarga membuat ku selalu ada tujuan untuk pulang. Selalu ada kerinduan untuk bertemu. Selalu ada cita-cita dan impian besar yang dibangun bersama.

Aku yakin akan ada hikmah yang besar dengan posisiku yang jauh dari keluarga. Yaa aku jalani saja.  Kalau toh rindu kembali datang menyergap …  ini artinya aku masih punya keluarga, aku masih ada tujuan untuk pulang  untuk merangkai mimpi indah … Semoga

Posted in Uncategorized | Leave a comment

I’m not the victim

Hari jum’at sore tanggal 26 Agustus 2011 di saat semua energi membayangkan nikmatnya mudik ke kampung halaman, aku mendapatkan oleh-oleh mudik yang luar biasa. Menerima SK mutasi ke Kantor Cabang Balikpapan yang harus segera dilaksanakan setelah lebaran.

Alhamdulillah, karena aku bisa memanfaatkan event mudik untuk bertemu langsung dengan orang tua dan minta doa restunya semoga penugasan ke Balikpapan diberikan keselataman dan kesuksesan, bisa mengemban amanah yang diberikan oleh perusahaan dengan baik.

Ini kali pertama mendapatkan tugas ke luar Jawa dengan rentan waktu yang lama. Tidak tahu apakah 1 atau 2 tahun atau lebih. Atau hanya beberapa bulan saja.  Dan selalu yang menjadi pikiran dan pertanyaan dari rekan kerja adalah bagaimana dengan keluarga ? Apa mau dibawa atau ditinggal di Jakarta ?  Ada yang menyarankan agar dibawa saja supaya bisa kerja tenang apalagi anak-anak masih kecil. Ada yang menyarankan keluarga tetap di Jakarta saja karena toh tidak selamanya di Balikpapan. Seperti pimpinan cabang yang lain, bisa dipastikan dalam kurun waktu tertentu akan dirotasi ke cabang lain.

Aku sih mengalir saja. Untuk saat ini alirannya baru meninggalkan keluarga di Jakarta. Dinikmati saja sampai kapan aku bisa menjaga irama pekerjaan dengan tinggal jauh dari keluarga ini.  Anggap saja saat ini adalah batu ujian yang harus aku lewati sampai seberapa besar komitmenku untuk setia kepada cita-cita keluarga yang sudah disepakati dengan istri dan anak-anak.  Ya … ada cita-cita besar yang harus aku siapkan sejak dari sekarang.  Tidak bisa mundur lagi. Sebuah impian mengenai keinginan memberikan peran yang lebih besar lagi kepada umat.  Sebuah cita-cita yang membebaskan dan memerdekakan belenggu-belenggu berhala yang selama ini terasa semakin kuat mencengkram ketauhidan kepada ALlah SWT.

Justru penugasan ini ingin aku jadikan renungan hingga aku semakin yakin betapa besarnya peran istri dan anak dalam memberikan kebahagian-kebahagiaan kehidupan yang tidak bisa dirupiahkan.  Bisa jadi juga Allah mentakdirkan aku berada di Balikpapan ini untuk menjadikan hati ini lebih lembut lagi sehingga lebih peka dan tahan banting menghadapi alunan takdirNYA.

Ini aku kira sikap terbaik yang harus aku ambil. Menerima dengan berat hati atau kemarahan hanya akan membuahkan ketidakberdayaan, ungkapan-ungkapan kekecewaan dan kinerja yang tidak optimal.  Menempatkan diri sebagai korban kebijakan adalah sikap yang sangat menggoda yang akan dengan mudah melempar tanggung jawab untuk setiap tugas yang tidak bisa diselesaikan.  Dan aku tidak ingin seperti itu. Semua ini aku terima dengan komitmen dan tanggung jawab 100 %. 

I’m not the victim. I take responsible 100 % of my own life.

Posted in Berbagi Pengalaman | Leave a comment

Berbagi Tugas dengan Tuhan

Kita ini lama-lama kok makin nggak tahu diri. Dengan kemampuan kita yang sangat terbatas kok berani-beraninya mengambil kavling pekerjaan Tuhan. Sok tahu dan sok pinter membayangkan bahkan memastikan kejadian yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Akibta sok tahu dan sok pinter ini, kita sendiri akhirnya yang pusing, karena apa yang kita bayangkan atau pastikan ternyata tidak terjadi.  Bayangan-bayangan yang menakutkan dan mencemaskan ternyata tidak terjadi, tapi kita sudah takut dan cemas duluan. Bayang-bayang kejadian yang menyenangkan ternyata tidak terjadi, tapi kita sudah sombong dan angkuh duluan.

Mari kita berbagi tugas dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNYA. Dia yang menciptakan kita, sangat tahu dengan kekuatan dan kelemahan serta kebutuhan kita. Jangan ajari Tuhan bahwa rencana kita harus terjadi. Jangan ajari Tuhan bagaimana caranya Dia mewujudkan kehendakNYA.  Jangan ajari Tuhan bagaimana menyelesaikan suatu masalah. Jangan batasi kekuasaan Tuhan hanya sebatas jangkauan akal kita.

Sangka buruk adalah bukti nyata bahwa kita tidak mempercayai kekuasaan dan Maha Kasih Sayangnya Tuhan.  Sangka buruk adalah bukti kuat bahwa kita suka membatasi kekuasaan Tuhan, seolah Tuhan kehabisan ide untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Apa yang akan terjadi, serahkan padaNYA. Itu tugas Tuhan.  Berterima kasihlah kita kepada Tuhan, karena Dia memberikan sedikit bocoran bagaimana Dia membagi-bagi rizki kepada hambaNYA/ Dia akan memberi kita rizki lwbih banyak jika kita mensyukuri apa yang ada. Dia akan memberikan rizki yang banyak jika kita rajin sedekah.  Dan masih banyak ilmu-ilmu Tuhan tentang pembagian rizki.

Posted in Berbagi Pengalaman | 1 Comment

Audit Kehidupan

Awal Juni 2011 ini, saya kedatangan Tim Audit dari Kantor Pusat. Sudah menjadi tugas Tim Audit untuk mereview praktek operasional bisnis di cabangku. Tim menilai sejauh mana risk management dikelola di cabang sehingga mitigasi resiko masih mencover kepentingan perusahaan.

Memang bisnis perbankan adalah bisnis resiko. Jangan harap bisnis akan maju kalau bankir takut resiko. Persoalannya adalah sejauh mana resiko yang mungkin terjadi bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi sehingga potensi kerugiannya bisa diminimalkan.

Belum lagi masalah fraud atau bahasa gamblangnya tindakan pegawai bank yang dengan sengaja memperkaya diri sendiri atau orang lain sehingga merugikan bank. Jangan deh sekali sekali  melakukan fraud. Bisnis jasa kepercayaan di perbankan ini tidak ada tempat bagi para karyawan yang berniat tidak baik. Lagian, kita juga tidak mau memberi nafkah anak istri pakai uang haram. Titik.

Yang kita perlu berdoa minta pertolongan kepada Allah adalah barangkali kita lalai atau tidak tahu melanggar aturan. Tanpa ampun kalau sampai merugikan perusahaan, pasti kena sanksi.

Untuk urusan pekerjaan dunia saja, kita sangat concern dengan audit. Mari kita bertanya, bagaimana persiapan kita menuju kehidupan abadi di akhirat ? Apakah kita sudah melakukan audit juga ? Berapa banyak kita beramal, berbuat baik dan berapa banyak kita berbuat dosa dan maksiat? Berapa banyak kita sedekah dan berapa banyak kita hura-hura dengan uang kita ? Lalu pantaskah kita masuk surga ?

Rasanya kita lebih khawatir terhadap audit dunia tapi masih enjoy saja dengan audit akhirat. Mungpung saat ini masih ada kesempatan untuk memperbaiki, mari kita perbanyak amal sholeh. Kalau nanti audit di padang mahsyar, apapun hasilnya kita harus terima karena pintu perbaikan sudah ditutup.

Posted in Berbagi Pengalaman | 1 Comment

Sabar ya Nak …

Nak …

Saat dulu kamu mau lahir, aku yakin, Allah menakdirkan aku jadi bapakmu dan kamu jadi anakku, sdh dengan perhitungan dan pertimbangan yang tepat. Kamu jadi anakku bukan kebetulan dan bukan tiba-tiba. Ilmu Allah meliputi segalanya, yang lahir dan yang bathin, yang dulu dan yang akan datang.

Allah sudah mempersiapkan rahim ibumu untuk mempersiapkan kelahiranmu. Allah sudah menetapkan kapan dan dimana kamu akan lahir. Senakal apapun dirimu saat ini, Allah sudah mengukur tingkat kesabaranku. Kalau kamu sakit, Allah sudah menyediakan rizkiNYa untuk pengobatanmu. Semuanya sudah dipersiapkan Allah yang Maha Sempurna.

Allah hanya memberikan tugas kepadaku memberikan rizki yang halal dan memberikan pendidikan tentang kekuasaanNYa kepadamu. Allah pasti sudah memberikan rizki itu untukmu, tinggal aku mengusahakan untuk mengambilnya.

Nak …

Maafkan bapakmu yang kadang kurang sabar mendidikmu. Walaupun Allah sudah mengetahui batas kesabaranku, tapi Allah mengujiku dengan tingkah laku dan perbuatanmu. Aku diberikan pilihan untuk marah-marah atau bersabar membimbingmu.

Sabar ya nak …

Posted in Berbagi Pengalaman | Leave a comment

Menyusuri daerah di luar kuadran 1

Asyik juga menyusuri daerah cashflow quadrant-nya Robert Kiyosaki. Sebagai manusia yang sudah puluhan tahun berada di kuadran 1 alias karyawan, tentu suasana psikologisnya sudah mengendap dan terpatri cukup kuat. Namun demikian tekanan-tekanan bisnis dan semakin luasnya pemahaman makna kehidupan dan silaturahim dengan dunia usaha yang semakin intens, rasanya ada hentakan-hentakan kecil yang makin lama menguat untuk mencicipi suasana kuadran di luar kuadran 1.

Pergulatan pemikiran terhadap visi,misi dan nilai-nilai kehidupan dan pembelajaran terhadap pola pikir tokoh-tokoh otak kanan yang menghuni kuadran 3 dan ditambah lagi ceramah tokoh sedekah Ustadz Yusuf Mansur, sepertinya diri ini mulai menemukan benang merah. Selama ini sebagai manusia kuadran 1, setelah puluhan tahun saya nikmati,  saya mulai terganggu dengan munculnya berhala-berhala kecil yang membuat komunikasi dengan Yang Maha Kuasa tidak berjalan mulus. Target bisnis, profit, otoritas struktural telah menjadi tuhan yang minta perhatian sebagian besar waktu kehidupan yang cuma 24 jam sehari. Bahkan waktu tidur pun terganggu. Bangun pagi, bukan rasa syukur yang pertama kali terlintas, tapi setumpuk target yang belum terselesaikan. Wilayah yang paling privat pun mulai diganggu berhala-berhala kecil ini. Waktu yang paling bagus berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa di tengah malam tidak terasa nyaman lagi. Mungkin berhala-berhala kecil ini sudah ada sejak dulu, namun dengan berjalannya usia, ada kebijakan-kebijakan untuk menata kehidupan lebih baik lagi. Tidak hanya masalah materi, namun lebih dalam dari itu yaitu meninjau kembali nilai dan makna dari setiap aktivitas kehidupan.

Saya juga tidak bisa memastikan bahwa di daerah di luar kuadran 1 itu bersih dari berhala. saya yakin ada, hanya berbeda bentuknya. Karena di kuadran 2-4 itu kita lebih bebas menentukan profit, maka bisa saja nafsu serakah yang selama ini belum terpenuhi di kuadran 1 tiba-tiba menjadi berhala yang menguasai panggung kudran 2-4. Walahualam.

Atau sebaliknya, kalau di kuadran 1 dikategorikan sebagai zona aman karena penghasilan tetap, bisa jadi di kuadran 2-4 karena merupakan wilayah non fix income, akan muncul berhala-berhala kecil lain untuk pegangan hidup ketika dalam kondisi terpuruk. Berhala kecil itu bisa berupa tidak jujur kepada pelanggan demi secuil keuntungan sesaat, rasa dengki dengan kompetitor, bahkan bisa semakin gelap mata dengan memelihara sesuatu untuk mendongkrak penjualan.

Jadi ? mohon maaf, karena kelamaan di kuadran 1 yang paling suka menggunakan otak kiri, maka terlalu banyak pertimbangan sehingga tidak juga mengambil keputusan. Bingung kan ?

Posted in Berbagi Pengalaman | Leave a comment