Tensi dilarang naik, apapun penyebabnya. Itulah niatku yang harus aku ualng-ulang setiap hari. Sebuah niat yang harapannya mampu menjaga emosi di tengah begitu banyak hal-hal yang bisa menyebabkan tensi naik.
Tensi dilarang naik, tanpa reserve !. Semestinya kalau sikap ikhlas dan ridlo itu sudah terpatri di dalam hati, ketika tensi mau naik, bisa segera diredam kembali. Setiap kejadian, tidak akan lepas dari ilmu dan pengawasan Allah. Kalau sekedar anak nakal lalu tensi naik, anak buah belum mengerjakan tugas tensi naik, sopir angkot ngetem sembarangan tensi naik, target bisnis tidak tercapai tensi naik, nasabah marah-marah lalu tensi ikut naik, bisa dibayangkan setiap hari tensi ini nggak pernah turun.
Tensi naik disebabkan oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang kita anut. Kita sangat concern dengan kebersihan misalnya, akan mudah naik tensi kalau melihat orang lain sembarangan buang sampah. Kita sangat memperhatikan soal waktu, maka kalau ada anak buah yang lelet dalam menyelesaikan tugas, sangat mungkin tensi naik. Kita pulang kantor sangat lapar, dan berharap sampai di rumah ada makanan yang bisa segera dilahap. Ternyata sampai di rumah tidak ada sedikit pun makan yang tersisa. Sangat mungkin tensi jadi naik. Begitulah, begitu banyak persoalan kehidupan yg bisa membawa tensi naik. Kalau kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka mari kita nikmati tensi yang tidak pernah turun.
Mari berniat untuk menjaga agar tensi ini tidak naik, apapaun penyebabnya, bahkan oleh sebab yang paling absurd sekalipun. Berapapun kerugian yang kita alami, baik finansial maupun non finansial, tenang sejenak, jaga tensi jangan naik.
Amati tanda – tanda tensi mau naik ; volume suara makin tinggi, kepala mulai nyut-nyutan, muka merah, mata melotot, tangan serasa pingin melayang. Mungkin wajah kita seperti setan kalau tensi lagi naik. Sadari tanda-tanda itu segera dan yap …. ucapkan ; Astaghfirullajhal’adziim, tensi jangan naik.
Kadang tensi naik itu disebabkan oleh karena kita suka memakaikan ukuran baju kita kepada orang lain. Orang lain harus punya ukuran yang sama dengan kita tentang apa yang kita yakini. Padahal masing-masing orang mempunyai ukuran sendiri-sendiri. Misalnya anak kita yang nakal yang suka bongkar-bongkar alat-alat elektronik yang baru kita beli. Bagi kita… ya anak kita nakal. Tapi menurut anak kita, dia itu pingin tahu sesuatu yang baru.
Kalau upaya sudah optimal, lalu keinginan tidak tercapai, semestinya tensi tidak perlu naik. Ambil saja pelajaran dari tidak tercapainya keinginan tersebut, kemudian jangan diulangi untuk mendapatkan keinginan berikutnya.
Ok ? Saya harap para pembaca juga jangan naik tensinya saat membaca tulisan ini. Anggap saja tulisan ini seperti teriakan penjualan obat. Kalau anda yakin dengan obat yang dijual ya beli saja. Kalau tidak yakin … Ya biarkan saja sang penjual obat capek sendiri … selesaikan ?